KORPS NUSANTARA

KORPS NUSANTARA

Sejarah Hari Ini, 14 Oktober 1829, Belanda Tangkap Ibunda Pangeran Diponegoro

Diterbitkan Sabtu, 14, Oktober, 2023 by Korps Nusantara

Potret Perang Jawa yang berkecamuk dari 1825-1830. (Wikimedia Commons)

JAKARTA – Sejarah hari ini, 194 tahun yang lalu, 14 Oktober 1829, pemerintahan kolonial Hindia Belanda menangkap Ibunda Pangeran Diponegoro Raden Ayu Mangkarawati. Penahanan itu dilanggengkan dalam rangka menggembosi perlawanan Diponegoro dalam Perang Jawa (1825-1830).

Sebelumnya, perlawanan Pangeran Diponegoro sempat dianggap remeh Belanda. Gaungnya takkan besar. Anggapan itu salah besar. Seisi Pulau Jawa nyatanya berdiri membela Diponegoro. Utamanya, kaum alim ulama.

Kerja sama antara Kesultanan Yogyakarta dan Belanda membuat banyak pihak kesal. Pangeran Diponegoro, utamanya. Ia melihat sendiri bagaimana Patih Danurejo IV yang notabene pamannya menjadikan Sultan Hamengkubuwono IV bak boneka.

Patih korup itu kemudian menjalin hubungan baik dengan Belanda. Segala macam keinginan Belanda diturutinya. Sekalipun menyengsarakan rakyat. Ia memaksa rakyat Yogyakarta membawa pajak besar dan bea lainnya.

Diponegoro pun geram. Ia sempat mempermalukan pamannya karena korup dan serakah. Diponegoro menamparnya dengan selop dan disaksikan banyak orang. Kebencian Danurejo kepada Diponegoro makin menjadi-jadi.

Pucuk dicinta ulam tiba. Belanda meminta Danurejo menjalankan proyek pembuatan jalan baru. Nyatanya, Danurejo IV main serobot tanah rakyat Yogyakarta. Pun ia sengaja menyerobot tanah Diponegoro dan leluhurnya.

Gambar sosok Pangeran Diponegoro dengan goresan pensil karya seniman A.J Bik pada 1830. (Wikimedia Commons)

 

Patok-patok tanah dipasang Danurejo atas perintah Belanda. Amarah Diponegoro pun tak tertahankan. Patok-patok itu dicabut dan digantikan dengan tombak. Bak tanda permusuhan. Diponegoro tak mau dianggap remeh. Ia kemudian mencoba menyatukan pemimpin seisi Jawa. Dari pangeran hingga ulama.

Hasilnya mengejutkan Belanda. Perang Jawa yang merugikan Belanda besar-besaran terjadi. Semenjak itu seisi Jawa bak melanggengkan perlawanan terhadap Belanda.

“Pada tanggal 28 Juli 1825 bersama Diponegoro telah berkumpul beberapa orang bangsawan, yaitu Pangeran Mangkubumi, Pangeran Adinegoro, Pangeran Panular, Adiwinoto, Suryodipuro, Blitar, Kiai Mojo, Pangeran Ronggo, Ngabehi Mangunharjo, dan Pangeran Surenglogo. Yang pertama kali dilakukan Diponegoro adalah memerintahkan Joyomenggolo, Bahuyuda, dan Hanggowikromo, untuk memobilisasi orang desa di sekitar Selarong agar siap melakukan perang.”

“Selanjutnya Diponegoro menyusun rencana strategis dan langkah-langkah taktis. Secara garis besar, Diponegoro berencana merebut dan menguasai seluruh wilayah Kesultanan Yogyakarta, mengusir orang-orang Belanda dan Cina,” tulis Nugroho Notosusanto dan kawan-kawan dalam buku Sejarah Nasional Indonesia Jilid IV (2008).

Perlawanan Diponegoro kian masif. Belanda pun rugi besar. Segala macam agenda perdagangannya jadi terganggu. Empunya kuasa kemudian fokus untuk memukul mundur perlawanan Pangeran Jawa itu. Belanda mencoba melanggengkan kekuatan penuh.

Lukisan penangkapan Pangeran Diponegoro pada 28 Maret 1830 karya pelukis Raden Saleh yang dibuat 1857. (Wikimedia Commons)

Siasat itu membuat satu demi satu loyalis Diponegoro ditangkap. Pun kemudian Belanda sampai menangkap Ibunda dari Diponegoro pada 14 Oktober 1829. Penangkapan itu dilakukan dengan tujuan untuk menggembosi kekuatan Pangeran Diponegoro.

“Momen besar bagi Errembault (serdadu Belanda) hanya terjadi pada 14 Oktober 1829, ketika ia berhasil menangkap ibunda Diponegoro, Raden Ayu Mangkarawati, dan putrinya, Raden Ayu Basah, di sebuah kampung (Karangwuni, Glagah) dekat pantai di selatan Kulon Progo. Dalam penangkapan ini, ia berlaku selayaknya seorang lelaki bermartabat.”

“Ia mengizinkan para perempuan kerabat Diponegoro itu untuk menyimpan barang pribadi mereka, termásuk sebatang emas padat seberat tiga pon (1,36 kilogram) dan perhiasan pribadi, termasuk beberapa cincin berlian dan anting, juga sebuah keris pusaka kecil atau belati,” ungkap Sejarawan Peter Carey dan Farish A. Noor dalam buku Ras, Kuasa, dan Kekerasan Kolonial di Hindia Belanda 1808-1830 (2022). ( voi/korpsnusantara )

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *