KORPS NUSANTARA

KORPS NUSANTARA

Janji Rumah Layak Huni, Japi Peti Jenasah yang Diterima Nenek Hoar dari Dinsos Belu

Diterbitkan Kamis, 10, Agustus, 2023 by Korps Nusantara

Peti Jenasah untuk Nenek Hoar dari Dinsos Belu

BELU – Nenek Hoar (80) Seorang lansia penghuni gubuk reot yang beralamat di Dusun Lianain, Desa Naitimu, Kecamatan Tasifeto Barat, Belu, NTT.

Nasibnya sungguh miris, dirinya menerima janji pemerintah daerah (Pemda) akan di berikan rumah layak huni, namun yang diterima sebuah peti jenasah dari Dinas Sosial (Dinsos) Kabupaten saat menutup usianya.

Rumah layak huni yang dijanjikan hanyalah sebuah dongeng, namun berubah menjadi sebuah peti jenasah yang diterimanya saat ia menutup usianya.

Bertahun-tahun menghuni gubuk reot seorang diri dengan penuh harapan akan adanya perhatian dari Pemda Belu.

Namun, janji itu tidak direalisasi hingga ia menutup mata. Rupanya mimpi itu hanya sebuah isapan jempol bagi nenek Hoar (80) yang hidup seorang diri.

Saat menutup mata, nenek Hoar diberikan rumah baru berubah peti jenasah dari dinas sosial sebagai bentuk kepedulian dan perhatian pemerintah baginya di penghujung hayatnya.

Alasan keterbatasan anggaran dan regulasi yang ada telah mematikan naluri hingga tak satupun kebijakan dari para pemegang kuasa di negeri ini yang berpihak pada kaum pinggiran ini.

Sehingga nasib naas yang diterima wanita lanjut usia ini bahkan hanya bisa berpasrah pada nasib yang dialaminya bertahun-tahun lamanya itu.

Ketika ditemui media ini pada rabu, 9 Agustus 2023, Taek salah satu cucu dari Almarhumah Nenek Hoar (80) yang juga tidak bisa mengenyam pendidikan layaknya anak-anak lain pada umumnya.

Kepada media ini, Taek menceritakan bahwa dirinya sedih jika neneknya telah tiada dan hanya meninggalkan kenangan pahit yang dirasakannya bersama neneknya bertahun-tahun di bawah gubuk reot itu.

“Pak, nenek sudah meninggal rumahnya kosong dan tidak ada orang lagi” ungkapnya dengan mata berkaca-kaca saat awak.

Ia juga menjelaskan bahwa ia tidak bisa menikmati pendidikan karena keterbatasan ekonomi.

Niatnya ingin sekolah, namun apa dayanya jika keterbatasan ekonomi orang tuanya itu menjadi alasan dirinya hanya bisa menyaksikan anak-anak lain sebayanya itu bisa menikmati pendidikan yang ada.

Taek yang bercita-cita ingin jadi seorang polisi kelak nantinya itu rupanya harapan itu hanya akan menjadi sebuah impian dikarenakan kemampuan ekonomi orang tuanya tidak mencukupi.

“Saya mau sekolah tapi bapak tidak ada uang, dan saya cita-cita mau jadi polisi nantinya”. Ungkap Taek.

Situasi dan kondisi yang dialami keluarga ini tidak jauh dari rumah dan tempat asal Bupati Belu Taolin Agustinus yang juga salah satu putera kebanggaan orang Naitimu.

Selain rumah dan tempat tinggalnya seorang Bupati yang begitu mewah, ada juga sebuah monumen bersejarah yang sedang di renovasi Pemerintah Daerah (Pemda) Kabupaten Belu yaitu Tugu Seroja.

Melihat hal ini, Siprianus Fahik salah satu Tokoh Lembaga Masyarakat Desa Naitimu mempertanyakan urgentnya renovasi tugu oleh Pemda Belu yang berada di tengah-tengah masyarakat yang sementara hidupnya di bawah garis kemiskinan.

Pihaknya, mempertanyakan apa urgentnya Pemda merenovasi tugu yang sementara ini ada baik-baik saja, sedangkan masyarakat menjerit di sekitaran tugu ini? Tanya Sipri.

“Harapan nenek Hoar tambahnya, untuk memiliki rumah layak itu akhirnya terjawab juga dari pemerintah Kabupaten Belu yaitu peti mayat yang dia terima dari dinas sosial dan mungkin ini harapan rumah layak yang diganti dengan peti jenasah” pungkas Sipri

Dikatakannya, salah satu butir pancasila yaitu sila ke lima yang berbunyi ” Keadilan sosial bagi seluruh rakyat indonesia” bunyi dari sila itu tidak dirasakan oleh masyarakat kecil seperti nenek Hoar ini.

“Menurut saya pemerintah ini ibaratkan kita yang memasak untuk mereka makan, dengan harapan paling kurang ketika mereka makan menyisahkan keraknya untuk kita, tetapi faktanya justru mereka makan tanpa perduli sisanya,” pungkasnya*(Mario)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *