KORPS NUSANTARA

KORPS NUSANTARA

Bunga Rampai ‘MITHOMANIA’ Politik ‘BATU TULIS’ Dan Kebesaran Hati Prabowo Menuju Singgasana

Diterbitkan Minggu, 30, April, 2023 by Korps Nusantara

Bung Rogger Evantino Bersama Prabowo Subianto Saat Acara Pameran Alutsista Pertahanan Udara di Lanud Halim Perdana Kusuma Jakarta”. ***(Foto:Istimewa)_

Oleh : Bung Rogger Evantino (Staf Ketua Umum Partai Gerindra 2010-2014)

Ketika jari-jemari saya mulai merampungkan opini ini, seketika dalam hati saya terbesit bahwa jika tulisan ini sampai dibaca oleh mentor saya Bapak Prabowo, para elit Gerindra atau para senior mereka akan marah karena saya membahas soal batu tulis. Sebuah peristiwa perikatan politik dagelan yang dipertotonkan, dan sudah dilupakan oleh sebagian kader Gerindra, tetapi tetap membekas dan saya perlu membahasnya karena kebenaran harus disuarakan tanpa peduli siapa yang menyuarakan dan kapan hal tersebut disuarakan.

Karenanya saya mohon maaf kepada guru saya Bapak Prabowo dan para senior sekalian atas tulisan saya ini. Perlu diketahui bahwa di Partai Gerindra kami diajarkan untuk tidak terlalu berlama-lama melihat masa lalu. Selaku alumni Pusdiklat Hambalang, setiap insan jebolan Padepokan Garuda Yaksa diajarkan untuk visioner dengan semangat untuk melihat dan menggapai cita-cita bersama masa depan melalui platform perjuangan di rumah besar Partai Gerakan Indonesia Raya.

Mendengar kata ‘Bunga Rampai’ bagi sebagian golongan masyarakat merupakan sebuah istilah yang sering diucapkan, apalagi di kalangan akademisi. Namun ketika mendengar kata ‘Mithomania’, sepertinya jarang untuk diucap, dikutip dan dibahas dalam ruang publik. Ya, Mithomania adalah merupakan sebuah sikap kebohongan yang dilakukan secara terus menerus untuk mencapai tujuan yang diinginkan atau bahasa sederhananya kebohongan yang sudah mendarah daging.

Dalam politik yang merupakan arena untuk beradu taktik dan strategi, “Mithomania Politik” merupakan sebuah fenomena. Berbagai cara akan digunakan untuk mencapai tujuan politik. Tapi perlu diingat bahwa cara tersebut harus tetap menjunjug tinggi integritas dan kejujuran antara kata dan perbuatan, yang akan menjadi ukuran bagi kualitas dan kemampuan berkompetisi seseorang. Ini adalah ‘fatsun politik’ yang harus dipegang teguh oleh kita semua, dan menjadi ciri khas tersendiri sebagai warga indonesia dengan adat ketimurannya.

Sosok Prabowo Subianto yang merupakan tokoh politik kaliber tanah air, tidak bisa dilepaskan dari Istana Batu Tulis Bogor. Walaupun bukan keluarga dan hanya penggemar Bung Karno, Prabowo selalu identik dan bersinggungan dengan tempat ini. Ketika Megawati Soekarnoputri maju bersama Prabowo dalam pemilu presiden 2009, dan akhirnya harus mengakui kemenangan Susilo Bambang Yudhoyono, istana Batu Tulis merupakan tempat bertemunya mereka untuk mematangkan koalisi. Konsensus yang dihasilkan Mega-Prabowo di tempat ini dikemudian hari dikenal dengan ‘Perjanjian Batu Tulis 2009’.

_”Dokumen Kesepakatan Megawati dan Prabowo Yang Kemudian Dikenal Dengan Nama Perjanjian Batu Tulis 2009″ ***(Foto:Istimewa)_

Sebelum pasangan ini di deklarasikan, saat itu Mega dan Prabowo bersepakat dan dalam salah satu diktum kesepakatannya adalah PDI Perjuangan akan mendukung Prabowo pada pilpres lima tahun berikutnya yakni tahun 2014. Perjanjian ini kemudian diingkari sepihak oleh Megawati dan PDI Perjuangan dengan dalil bahwa kesepakatan tersebut akan berlaku jika pasangan Mega-Pro memenangi pilpres tahun 2009. Inilah yang saya sebut edisi pertama kebohongan batu tulis.

Dalam ingatan publik, kekalahan yang dialami oleh pasangan capres/cawapres Mega dan Prabowo atau Mega-Pro rasanya sudah mulai kabur seiring berjalannya waktu. Prabowo Subianto dengan partainya Gerindra sepertinya telah ‘move on’ walaupun sesudah kekalahan itu Gerindra mengambil sikap ‘Oposisi’ bersama PDI Perjuangan. Kurang lebih bagi Prabowo, namanya kompetisi pasti ada kalah dan menang, namun kita harus terus maju melihat masa depan Indonesia yang lebih baik tentunya.

Sikap yang berbeda ditunjukan oleh Megawati Soekarnoputri. Sosok Susilo Bambang Yudhoyono atau SBY di mata Megawati adalah anak buah yang menunjukan sikap berkhianat. Ya, SBY adalah menteri di kabinet yang dipimpinnya dan kemudian mengalahkan dirinya. Megawati dan SBY jarang berada dalam satu kebersamaan atau suasana politik pasca kekalahan itu maupun selama satu dekade SBY berkuasa. Toh, kalaupun mereka bersama suasananya cukup kaku dan dingin, sehingga banyak kalangan menilai Megawati masih menyimpan dendam kepada SBY atas bentuk pengkhianatan masa lalu itu.

Perbedaan sikap kebesaran hati dan keikhlasan ditunjukan berbeda oleh Prabowo Subianto. Prabowo selalu menempatkan kepentingan bangsa dan persatuan Indonesia diatas segala-galanya, walaupun kami para kader harus bersusah payah untuk menyesuaikan diri akan sikap sang komandan. Anda bisa melihat pasca pilpres 2009, 2014 dan 2019 Prabowo selalu menghargai lawan politiknya bahkan siap menjadi pembantu di kabinet dan menjadi ‘anak buah’ Presiden Joko Widodo.

Publik banyak tidak tahu bahwa orang nomor satu republik ini yang pada 2012 yang lalu bukanlah siapa-siapa. Dirinya hanya seorang Walikota Solo yang berlatar belakang pengusaha kayu dan berteman dengan Hashim Djojohadikusumo yang kemudian mengenalkan Jokowi kepada kakaknya Prabowo. Garis tangan kemudian membawa Jokowi menjadi Gubernur DKI Jakarta sebelum menjadi presiden dua periode.

Prabowo kala itu harus bolak balik dan susah payah meyakinkan Megawati untuk mencalonkan Jokowidodo di Pilgub DKI Jakarta. Tidak banyak yang tahu tentang hal ini. Saya yang waktu itu dipercaya menjadi staf Ketua Umum Gerindra I mendiang Prof.Dr.Ir. Suhardi, sedikit mengikuti proses ini dan kerap kali menyaksikan betapa sibuknya Prabowo membujuk Megawati dan Alm. Taufik Kiemas yang pada saat itu kekeuh mendukung Fauzi Wibowo sang petahana.

Bagi tentara kebanyakan atau seorang mantan tentara seperti Prabowo, prinsip yang dijunjung tinggi adalah soal integritas. Secara total sumpah prajurit yang sudah terucap akan terpatri dibawa mati dan terus dipertahankan sampai akhir hayat, begitupun dalam politik. Janji politik harus ditunaikan dan tidak boleh diingkari, itulah hakekat dari politik dan politisi. Pada titik ini, dinamika perdebatan akan muncul soal pandangan akan sikap politik ontologis dan epistemologis bagi sebagian kalangan. Dua karakter manusia hidup yang digambarkan dalam tokoh pewayangan jawa, menjadi pembeda dalam konteks prinsip dan nilai yang harus dijunjung tinggi dalam dinamika berpolitik.

Kebohongan Batu Tulis edisi beikutnya memang tidak dituangkan dalam sebuah perjanjian hitam diatas putih. Namun, sikap kenegarawanan Prabowo pasca pilpres 2019 diawali dengan diplomasi MRT Lebak Bulus – Senayan dan juga Diplomasi Nasi Goreng Kertanegara – Teuku Umar membuktikan bahwa Prabowo sangat berjiwa besar. Prabowo dan Gerindra diminta untuk bergabung bersama gerbong kabinet Joko Widodo – KH. Ma’aruf Amin. Seketika rivalitas politik pilpres 2019 kian teduh karena sikap legowo-nya Prabowo.

Bung Rogger Evantino di Kediaman Capres Prabowo Subianto di Kertanegara Kebayoran Baru, Saat Menjadi Staf Eksekutif Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo – Sandi 2019 silam.

Kami seluruh kader Partai Gerindra dikumpulkan oleh Prabowo di kediamannya di Hambalang, dan dalam pidatonya beliau menyampaikan agar kita harus memikirkan kepentingan bangsa yang lebih besar dengan mengambil contoh positif dari para pemimpin dunia yang kini negerinya telah maju jauh melampaui kita. Prabowo akan selalu berusaha untuk mencari titik-titik persamaan dalam membangun bangsa. Cerita pemimpin peradaban dunia masa lampau dikumandangkan dari atas panggung Rapimnas Gerindra tahun 2019 lalu.
Cerita pertama adalah pendiri negara Tiongkok Mao Zedong yang memiliki rival bernama Deng Xiao Ping. Anaknya Deng ketika masih berumur dua tahun oleh tentara Mao Zedong dibuang dari gedung berlantai dua dan akhirnya cacat seumur hidup. Ini merupakan bentuk ancaman agar Deng tidak membangkang. Namun, setelah Mao Zedong terpilih, Deng Xao Ping justru ditunjuk menjadi Sekjen Partai Komunis Cina. Mao meminta agar Deng melupakan perselisihan keduanya dan saling bekerja sama membangun negeri Tirai Bambu.

Cerita kedua adalah rivalitas berujung damai antara mantan presiden Amerika Serikat Abraham Lincoln yang bertahun-tahun bersaing dengan politikus senior William H. Seward, yang mana keduanya berasal dari Partai Republik. Saat Lincoln terpilih menjadi presiden AS, ia justru menunjuk Seward menjadi secretary of state atau Menlu AS, posisi ketiga tertinggi di pemerintahan Amerika.

Seward kemudian bertanya pasca penunjukan tersebut. “Anda tahu, saya saya sangat membenci anda, kenapa anda menawarkan posisi menteri luar negeri ini kepada saya”?. Jawaban Abraham Lincoln kemudian membuka mata para penasihat dan pendukungnya, maupun pendukung Seward. “Iya, saya tahu kamu benci sama saya. Kamu pernah bilang saya monyet dan saya juga sangat membenci kamu. Tetapi ada satu hal yang tidak bisa terbantahkan, bahwa kita memiliki kecintaan yang sama dan luar biasa kepada USA”.

Cerita ke tiga adalah penguasa militer asal Jepang, Toyotomi Hideyoshi yang terkenal pada zaman Sengoku. Bersama dengan Tokugawa Ieyasu yang mendirikan keshogunan tokugawa, keduanya sama-sama memiliki pasukan perang yang kuat dan besar.

Namun pada malam sebelum keesokan harinya mereka berperang, keduanya bertemu dan memutuskan untuk membatalkan perang agar tidak timbul korban jiwa. Perseteruan keduanya lalu diselesaikan dengan perundingan damai.
Lihatlah, betapa majunya negara mereka saat ini yang menjelma menjadi raksasa di Asia dan Eropa. Mereka para pemimpin yang diceriterakan tersebut berani melepaskan ego untuk bersama-sama membangun tanah tumpah darah-nya.

Sampai disini hemat saya bahwa Prabowo telah melampaui sikap politisi manapun di tanah air demi kepentingan dan kemajuan Indonesia di masa mendatang. Dengan begitu, maka instruksi Prabowo kepada setiap kader di seluruh tanah air untuk menegaskan sikap politik Gerindra, yakni menghindari perpecahan, dan terus mencintai keutuhan NKRI.

Silih berganti Prabowo diingkari, namun dirinya tidak pernah marah atau dendam. Ia telah selasai dengan dirinya sendiri dan berkomitmen untuk terus mengabdi bagi kepentingan bangsa dan negara. Kemenangan atau kekalahan dalam politik tidak harus membuat kita terus bermusuhan antara pihak yang kalah dan pihak yang menang. Karena politik adalah seni dalam dialektika sehingga untuk kepentingan yang lebih besar, tidak boleh ada ruang dan perasaan pribadi walaupun kerapkali politik digunakan sebagai alat untuk berkhianat atau berbohong.

Hubungan baik yang terus dibangun oleh Prabowo dengan politisi tanah air menggambarkan bahwa bukan sekedar sebuah kekuasaan semata yang diperjuangkan oleh Partai Gerindra, namun dibalik itu ada persatuan yang harus dijunjung tinggi agar Indonesia terhindar dari perpecahan.

Dalam pidato Megawati Soekarnoputri saat Kongres ke-5 PDIP di Bali 8 Agustus 2019 yang lalu, kemudian memunculkan tafsir ganda. Dari atas panggung Mega mengajak Prabowo untuk sering-sering mendekati dirinya jika ingin memenangkan Pilpres. Statement itu kemudian berhubungan erat dengan pemandangan di pematang sawah di Kebumen beberapa waktu lalu. Presiden Joko Widodo, Prabowo dan Ganjar Pranowo bercengkrama di tengah kunjungan sang kepala negara, dan membuat publik yakin bahwa kali ini PDI Perjuangan tidak akan meninggalkan Prabowo sendirian.

Dalam sejarahnya, Istana Batu Tulis merupakan sebuah merupakan sebuah tempat yang lokasinya berada di wilayah Bogor Jawa Barat. Tempat ini dibangun pada tahun 1553 oleh Prabu Surawisesa untuk mengenang kebesaran ayah Prabu Siliwangi. Tempat ini dikenal dengan tempat keramat dan juga banyak menyimpan cerita dari penduduk sekitar tentang berbagai kejadian aneh yang sering terlihat secara kasat mata. Singkat cerita pada tahun 1960 Bung Karno membeli lokasi tersebut dan meminta arsitek RM. Soedarsono untuk merancang sebuah bangunan yang sering digunakan di masa orde lama untuk melakukan pertapaan dan juga meditasi di tempat ini, yang kemudian menjadi rumah terakhir sebelum dirinya lengser dari posisinya sebagai pemimpin.
Prasasti batu tulis adalah merupakan ungkapan hati dari Prabu Surawisesa yang tidak dapat meneruskan kerajaan warisan sang ayah Prabu Siliwangi. Gempuran pasukan dari Banten dan Cirebon kepada kerajaan Padjajaran memaksa Prabu Surawisesa untuk mengangkat bendera putih dan mengakui kehebatan musuh.

Jika ditarik ke kondisi terkini akan sejarah masa silam, maka deklarasi Ganjar Pranowo beberapa waktu lalu sebagai Capres yang diusung PDI Perjuangan, adalah bentuk penyesalan Megawati Soekarnoputri yang sepertinya tidak akan mengulang kemenangan Jokowidodo dan PDI Perjuangan pada dua kali pemilu sebelumnya. Suasana kebatinan Megawati sepertinya tidak jauh berbeda dengan Prabu Surawisesa yang saat itu.

Bung Rogger Evantino dan Prabowo Subianto (Ilustrasi)

Hemat saya Megawati dan PDI Perjuangan tidak akan mampu membendung simpati rakyat yang sudah mengerti dan sejak lama memperhatikan, membuktikan akan sikap kesatria, integritas yang tinggi, kebesaran hati, menjunjung tinggi persatuan, kerukunan dan keikhlasan hati dari Prabowo Subianto dalam mendharmabhaktikan dirinya bagi ibu pertiwi. Hal ini terbukti dengan hasil survei yang semakin hari memposisikan Prabowo selalu menjadi nomor urut pertama hampir di kebanyakan lembaga survei, yang terakhir adalah Survei Poltracking di bulan April yang menempatkan Prabowo unggul 28.8% dari para rivalnya.

Gelombang rakyat menunggu sikap politik Prabowo dan Gerindra untuk segera mematangkan format koalisi pilpres 2024 bersama partai pendukung, agar semakin meyakinkan publik untuk memilih pemimpin yang bekerja ikhlas. Politik harus berlandaskan nilai, sebab politik yang tidak setia pada nilai akan mengganggu nalar publik (common sense). Politik akan dianggap rendah dan murahan. Publik yang mengamati sikap dan kebesaran hati Prabowo mulai apatis terhadap pihak yang selalu gemar berkhianat dan berbohong dalam politik. Mereka adalah kelompok pragmatis yang akan membuat politik semakin rendah nilainya.

Jika tokoh pewayangan Pandawa dan Kurawa hidup dalam konteks politik saat ini, maka bersatunya mereka akan mengingkari rasionalitas demokrasi, makna kompetisi, dan esensi berpolitik itu sendiri. Prabowo telah menunjukan sikap besar hati, walaupun digempur dengan Mithomania Politik bertubi-tubi. Di dalam dirinya tidak ada ruang dan perasan pribadi.

Para pembaca yang budiman. Di akhir tulisan ini saya ingin menyampaikan bahwa suatu saat entah kapan ketika anak dan cucu kita mengenang para pemimpin bangsa, maka Prabowo Subianto akan dikenang sebagai sosok pemimpin yang paling ikhlas untuk negara dan bangsa Indonesia. Selama hayat masih dikandung badan Prabowo akan berdiri tegak untuk kepentingan bangsa Indonesia.

Kepentingan bangsa yang lebih besar ruangnya di relung hati Prabowo dibanding kepentingan yang lain, menjadi alasan akan masifnya gelombang simpati dan dukungan masyarakat kepada Prabowo untuk maju mengambil tampuk kekuasaan tertinggi negeri. Jutaan mata dan telinga rakyat Indonesia telah menyaksikan dan mendengar dalam diam tentang kebesaran hati dan sikap ditunjukkan. Dalam diam pula rakyat akan bergerak dan berjabat erat bahu membahu untuk menghantarmu menuju singgasana. MERDEKA. SALAM INDONESIA RAYA. SEKIAN.

BACA JUGA:

Memaknai Kunjungan Prabowo Ke Pentagon Dan Hubungan Bilateral Indonesia-Amerika | Oleh Bung Rogger Evantino 

Gerindra NTT Optimis Rebut Kembali Kursi DPR RI, BUNG Rogger: Ketua Dan Sekretaris DPD Penuhi Unsur Elektabilitas

Rogger Evantino: UNIPA Maumere, Tinjauan Historis Dalam Perspektif Keilmuan Dan Tata Kelola Aset, Dengan Semangat Kolektif Mencetak Generasi Unggul Kabupaten Sikka

(Penulis : Alumni Pusdiklat Hambalang, Sekolah Kader Partai Gerindra tahun 2012 Unsur Sarjana Penggerak Desa (SPD), saat ini berdomisili di Jakarta).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *